Tugas 1 – Bahasa Indonesia 2 (Softskill)

priority seat

Fenomena Miris Kursi Prioritas

Laki-laki normal harusnya malu duduk di kursi prioritas KRL

Merdeka.com – Aksi dua pemuda di atas kereta commuter line Jabodetabek dihujat di media sosial. Mereka enggan memberikan kursi prioritas di KRL pada dua tunanetra.

Dua pemuda itu enteng saja mengusir tunanetra agar duduk di kursi biasa. Mereka pun melanjutkan tidurnya.

Kursi prioritas di KRL ada di setiap gerbong. Letaknya berhadapan di ujung-ujung tiap gerbong. Masing-masing bisa diduduki tiga penumpang, sehingga total ada 12 kursi prioritas di setiap gerbong KRL.

Ada stiker di setiap kursi prioritas. Kursi ini diprioritaskan untuk wanita hamil, ibu dengan anak balita, lansia dan penyandang cacat.

“Setiap penumpang pasti tahu kursi prioritas karena ada stikernya. Besar lagi. Jadi ini masalah kesadaran saja,” kata Agus, seorang petugas keamanan KRL saat berbincang dengan merdeka.com, Minggu (24/8).

Agus menambahkan selalu menegur penumpang yang duduk di kursi prioritas untuk memberikan tempat duduknya. Sebagian besar biasanya menurut. Ada juga yang ngomel.

“Kalau yang melawan biasanya saya tunjuk stiker di kursi prioritas. Silakan baca, kecuali bapak nggak bisa baca, boleh duduk sama ibu hamil di sini,” kata Agus.

Menurut Agus, kasus seperti dua pemuda ini kerap terjadi. Kesadaran banyak penumpang KRL memang masih rendah.

“Banyak yang seperti itu. Katanya sekolah. Badannya sehat. Pantas nggak duduk di kursi prioritas? Kalau laki-laki normal sih harusnya malu. Ya iya kan? Dia disamakan dengan ibu hamil dan penyandang cacat?” sindir Agus.

Analisa:

Fenomena tanpa empati ini memang sering terjadi dan menimpa para penyandang disabilitas di tempat-tempat umum. Ini terjadi karena mentalitas Bangsa Indonesia semakin menurun. Kurangnya kesadaran diri, egois dan individual adalah satu satu penyebabnya.

Untuk mencegah hal tersebut terjadi kembali semestinya petugas KRL bertindak tegas bagi para penumpang yang duduk tidak pada tempatnya. Tidak hanya itu, penumpang pun harus mempunyai kepekaan dan kesadaran diri akan hal itu. Dan yang paling terpenting dari semua itu adalah Pendidikan sejak dini tentang rasa empati. Ini sangat penting agar mental masyarakat Indonesia tidak semakin terpuruk.

Anak-anak diajarkan untuk mempunyai kepekaan diri terhadap orang-orang yang mempunyai kekurangan. Orang tua pun harus ikut andil dalam pendidikan ini, tidak hanya pendidikan dalam lingkup teori di sekolah. Tetapi orang tua harus turut mencontohkan hal-hal baik untuk anak-anaknya.

Semoga kejadian tersebut tidak terulang kembali dan generasi selanjutnya bisa lebih baik.

Indonesia Bisa!

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s